Leicester City vs Montpellier HSC: Tim "Perusak Sesaat" Dominasi Liga

. . Tidak ada komentar:
Leicester City vs Montpellier HSC: Tim "Perusak Sesaat" Dominasi Liga

keduanya adalah non unggulan juara liga, namun berhasil menjuarai Liganya masing - masing.

Sebagian besar liga di Eropa sudah selesai, dan sekarang adalah masa istirahat dari para pemain dan pelatih klub mereka yang sudah berjuang melewati liga selama bulan Agustus hingga Mei (biasanya). Di liga tersebut biasanya ada klub yang difavoritkan juara, sedangkan yang lainnya biasanya berusaha menimbulkan kejutan, seperti pada kedua klub kejutan yang akan dibahas di bawah ini.


Yang pertama: Montpellier HSC
Di musim 2011 - 2012, tidak ada yang menyangka bahwa klub Montpellier HSC yang akan menjadi jawaranya, padahal mereka baru saja promosi dari divisi 2 di musim 2009 - 2010. Pada saat itu, yang difavoritkan juara adalah klub yang sudah menjadi langganan juara macam Olympique Lyon, klun yang juara 7 tahun beruntun sejak musim 2002 - 2003 hingga musim 2008 - 2009, Olympique Marseille yang juara musim 2009 - 2010, dan satu - satunya klub Perancis yang juara Liga Champions, klub PSG yang konsisten berada di peringkat atas dan baru dibeli negara raja minyak, serta tim yang juara sebelumnya, Lille OSC. Apalagi, di musim sebelumnya, yakni musim 2010 - 2011, Montpellier hanya berhasil mendarat di posisi ke 14 klasemen. Kemungkinan juara Montpellier pun hanya 80 : 1, kemungkinan untuk menyelesaikan Liga di posisi tengah klasemen. Namun, prediksi berkata lain, Montpellier menjadi juara dengan selisih dengan tim penghuni peringkat ke 2 PSG, dan 8 poin dari penghuni peringkat 3 dan zona akhir fase Liga Champions saat itu, Lille OSC. Klub seperti Olympique Lyon, dan Olympique Marseille malah terlempar dari peta persaingan juara, dimana Lyon menempati peringkat ke 4, dan Marseille di posisi ke 10. Pemain kunci mereka pada saat itu adalah Olivier Giroud, yang jadi pencetak top skorer musim itu dengan 21 gol.

Namun, di musim selanjutnya, Olivier Giroud pindah ke Arsenal dengan mahar 12 Juta Euro (sekitar 9,6 Poundsterling), dan sepertinya tak ada yang dapat menggantikannya. Montpellier sempat terseok - seok di awal musim, sempat berada di zona degradasi hingga akhirnya sedikit demi sedikit merangkak naik, mereka akhirnya menyelesaikan liga di posisi ke 9 di musim 2012 - 2013. Di musim selanjutnya, yakni musim 2013 - 2014 mereka benar - benar tampak seperti tim yang hanya mengejutkan liga saja setelah musim tersebut mereka hanya berhasil meraih posisi ke 15, 3 tempat dari zona degradasi. Musim berikutnya hingga musim ini mereka kembali ke kelas mereka yang adalah tim papan tengah, dengan finish berturut  - turut di posisi ke 7, 12 dan 15 di musim ini.

Yang kedua Leicester City:
di musim 2015 - 2016, ada ledakan yang sangat mengejutkan dari klub yang baru saja promosi dari divisi 2 pada musim 2013 - 2014. Di musim 2014 - 2015 mereka hanya berhasil menempati peringkat 14 liga. Dan di musim 2015 - 2016, tim yang justru difavoritkan terdegradasi, dengan kemungkinan juara hanya 5000:1, malah berhasil menjadi juara dengan keunggulan telak 10 poin atas peringkat 2 Arsenal, dengan hanya kalah 3 kali (dikalahkan Arsenal 2 kali, Liverpool 1 kali), serta tidak kalah melawan klub macam Manchester City (1 kali menang dan 1 kali imbang), dan Manchester United (2 kali imbang). Kala itu, meskipun topskornya bukan pemain mereka (topskor adalah Harry Kane dari Tottenham dengan 25 gol), pemain mereka Jamie Vardy juga mentereng dengan mencetak 24 gol, bersama Sergio Aguero)

Namun musim selanjutnya, dengan pemain - pemain mereka yang diincar banyak klub karena penampilan gemilang tersebut, membuat mau tidak mau pasti ada yang akhirnya pindah ke klub lain, dalam hal ini yang pindah kemudian adalah N'Golo Kante, pemain tengah jangkar Leicester City pada musim sensasional itu ke Chelsea dengan mahar 32 juta Poundsterling. Mereka kemudian berusaha mencari penggantinya dengan membeli Nampalys Mendy dari Nice, serta Daniel Amartey dari FC Copenhagen. Meski begitu, Leicester City malah terjerembab di liga musim itu dan sempat berada di zona degradasi, hingga pemain mereka yang mengantarkan menjadi juara, Claudio Ranieri dipecat, dan digantikan oleh asistennya Craig Shakespeare. Dilatih oleh pelatih baru, mereka berusaha bangkit dan akhirnya keluar dari zona degradasi, namun jauh dari zona atas dengan menempati peringkat ke 12, sebuah penurunan yang cukup lumayan bagi klub juara liga.

Musim depan, dengan persaingan yang sangat ketat di Liga Primer ini, akankah Leicester City kembali ke peringkat atas menggeser tim tradisional penghuni atas klasemen? Ataukah ada klub lain yang mengejutkan liga? Kita nantikan saja musim depan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No SARA / Kasar / Spam

Segala Hal Tentang Sepakbola Semua Ada Disini. Berita Tentang Klub - Klub Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Italia, Liga Belanda, Liga Prancis, Liga Champions, Liga Europa, Liga Indonesia dan lainnya.

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Hanyalah seorang blogger baru yang suka nonton bola dan sekarang baru saja lulus kuliah jurusan Ilmu Sejarah dan sedang mencari kerja. Senang main futsal di posisi kiper. Fans Manchester United dan pemain idola Wayne Rooney.

Total Tayangan Laman

Translate

Videos

Football

Comments

Popular

Main Slider

Recent

Popular Posts